Usai Ditangkap Densus 88 Keluarga Terduga Teroris Ingin Tahu Kabar Adiknya

editor

Keluarga MRZ ingin tahu lebih jelas tentang kondisinya saat ini. Melalui sambungan wawancara virtual yang difasilitasi oleh kuasa hukumnya, Miko Kamal Associates, kakak kandung dari terduga MRZ (40) tampak menangis.
Keluarga MRZ ingin tahu lebih jelas tentang kondisinya saat ini. Melalui sambungan wawancara virtual yang difasilitasi oleh kuasa hukumnya, Miko Kamal Associates, kakak kandung dari terduga MRZ (40) tampak menangis.

Padang, Babarito

Keluarga terduga teroris yang ditangkap, densus 88  anti teror Mabes Polri, di Kawasan Gunung Pangilun, Kota Padang, pada beberapa waktu lalu, akhirnya mempertanyakan keadaan kondisinya.

Pasalnya, keluarga ingin tahu lebih jelas tentang kondisinya saat ini. Melalui sambungan wawancara virtual yang difasilitasi oleh kuasa hukumnya, Miko Kamal Associates, kakak kandung dari terduga MRZ (40) tampak menangis.

Kepada awak media, Dewi mengaku, adiknya merupakan pribadi yang baik dan tak banyak bicara.

Bahkan yang membuat pihak keluarga terkejut, adiknya dituding terlibat dalam aksi pidana terorisme atau kejahatan luar biasa itu. Pasca ditangkapnya, pihak keluarga sudah berupaya mencari tahu dimana keberadaannya.

Sejumlah upaya sudah dilakukan oleh keluarga didampingi pihak pengacara. Dimulai mendatangi Bidang Hubungan Masyarakat (Bid Humas) Mapolda Sumbar pada Senin (22/3/2021) dan juga mendatangi Mabes Polri, pihak keluarga

tak membuahkan hadil. Sehingga pihak keluarga meminta bantuan hukum.

“Keluarga tidak tahu ada penangkapan itu, karena penangkapan adik saya itu ketika dia berada di gang sekitar rumah atau tidak di dalam rumah tersebut. Kami baru mengetahuinya setelah polisi melakukan penggeledahan di rumah bersama kami di (Gunung Pangilun) sana pada sore harinya,” katanya.

Banyak hal yang mengganjal dan menjadi pertanyaan besar di kepala Dewi, termasuk keluarga yang lainnya. Dimulai dari ketidak percayaan adiknya terlibat dalam jaringan terorisme, kepribadian hingga sejumlah barang bukti yang disita petugas dari kediaman saat melakukan penggeledehan.

“Setahu kami adik saya itu anaknya pendiam, dia tidak banyak bicara selain keluarga, termasuk ke kakaknya sendiri, ke saya juga begitu, Saya tidak tahu kalau adik saya terlibat apa dan kemungkinan dia terlibat dalam hal (terorisme) itu,” kata Dewi.

“Bahkan jika panah itu dijadikan barang bukti oleh polisi dan mengindikasikan adik saya terlibat dalam aksi teror, saya fikir itu tidak benar, karena panah itu seingat saya diberikan oleh suami saya sebagai suvenir yang diletakkan rumah tua kami itu,” ujarnya.

Lebih lanjut dijelaskan, selama empat tahun belakangan, MRZ merawat orang tua yang sedang sakit,bahkan sampai meninggal.

Selepas kepergian ayahnya, MRZ masih harus berjuang merawat ibunda yang menderita penyakit demensia, semacam penyakit yang diderita seseorang lupa ingatan atau tidak mengenali apapun lagi dengan dibantu oleh perawat.

Pasalnya, saudaranya sudah pergi jauh merantau ke luar Sumatra Barat (Sumbar) dan hanya MRZ satu-satunya yang belum berkeluarga.

Dewi mengatakan, salah seorang saudaranya juga masih tinggal di kawasan Gunung Pangilun, namun tidak berada di rumah yang sama dan juga baru mengetahui penangkapan adiknya setelah sore hari saat polisi melakukan penggeledahan.

“Adik saya tidak bekerja, selama empat tahun ini orang tua kami sakit-sakitan, dia jadi anak satu-satunya fokus merawat mama dan papa dan harus diawasi selama 24 jam, sementara saya sendiri berada di Bogor, Jawa Barat (Jabar),” jelasnya.

Dewi menuturkan, rumah keluarga besar mereka itu memang sempat dijadikan tempat kos-kosan, sebelum orang tuana sakit dan dipindahkan ke rumah tersebut.

Dewi juga menuturkan bahwa MRZ, merupakan adik yang baik dan menyayangi keluarga. Pria kelahiran 17 Oktober 1981 tersebut juga tidak pernah menunjukkan gelagat aneh jauh sebelum penangkapannya ataupun beberapa hari sebelum ia ditahan oleh petugas.

Kakak dari MRZ menyebutkan, bahwa adiknya sempat merantau ke Jakarta dan berdagang makanan, minuman kecil di Pasar Senen selama satu tahun. Namun, sang kakak, tidak menjelaskan secara detail, kapan adiknya tersebut berada disana.

“Semasa itu, dia pernah tinggal juga di rumah saya di Bogor tiga hingga empat bulan, tidak kemana-mana, tidak pernah ada teman dekat, hingga akhirnya dia kembali ke Padang dan menjaga papa dan mama kami,” tuturnya.

Tak hanya itu, Dewi pun  mengaku tidak tahu kalau MRZ terlibat apa dan kemungkinan bergabung dengan organisasi terlarang, seperti Front Pembela Islam (FPI) itu sangat kecil, karena perhatian sang adik yang dicurahkan sepenuhnya untuk orang tua

Pihak keluarga mengaku, hanya ingin bertemu dengan MRZ, yang ditangkap pada 19 Maret 2021 itu, keluarga tak lagi mengetahui keberadaannya.

“Terakhir komunikasi dengan saya itu dua hari sebelum ia ditangkap, dia tak ada cerita apapun atau hal yang aneh-aneh, hanya cerita keadaan mama saja,” katanya.

“Keluarga hanya ingin kejelasan untuk bertemu dan informasi keberadaan dia, kami hanya ingin tahu kondisi dia apakah dia baik-baik saja,” pungkasnya.

Sementara itu, kuasa hukum keluarga yang terduga teroris, Miko Kamal, mengaku sudah melayangkan surat ke Komnas HAM RI.

“Kami berharap agar kasus ini ada kejelasan, dan pihak keluarga tidak menghalangi-halangai proses hukum, hanya saja ingin tahu kondisinya,”pungkasnya. (edt)

Tags

Related Post

Leave a Comment

Ads - Before Footer