PADANG, BABARITO.COM – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) memperkuat jejaring diaspora dan perantau Minang di berbagai daerah maupun luar negeri untuk mendukung percepatan pembangunan daerah.
Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah, mengatakan peran diaspora dan perantau sangat penting dalam membantu pembangunan kampung halaman melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah.
“Kami mengajak diaspora dan seluruh perantau Minang untuk terus memperkuat peran dan bersinergi dengan pemerintah daerah dalam mendukung percepatan pembangunan Sumbar,” kata Mahyeldi di Jakarta, Senin.
Menurutnya, kolaborasi antara ranah dan rantau bukan sekadar ajakan moral, tetapi telah menjadi bagian dari arah kebijakan pembangunan daerah yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Sumbar 2025–2029.
Dalam dokumen RPJMD tersebut, pemerintah menegaskan pentingnya penguatan nilai gotong royong dan kerja sama yang melibatkan seluruh komponen masyarakat, baik di ranah maupun rantau, melalui pendekatan pembangunan terpadu, holistik, dan integratif.
Ajakan tersebut disampaikan Mahyeldi dalam forum bertajuk “Mufakat Ranah dan Rantau untuk Membangun Nagari-Menguatkan Jati Diri”.
Pada kesempatan itu, Mahyeldi juga memaparkan sejumlah tantangan pembangunan di Sumbar, mulai dari peningkatan kualitas dan daya saing sumber daya manusia, penguatan ketahanan pangan, pertumbuhan ekonomi daerah, hingga keterbatasan layanan infrastruktur dasar dan sosial ekonomi.
“Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah daerah dan para perantau menjadi sangat penting untuk mempercepat pembangunan dan memperkuat kemandirian daerah,” ujarnya.
Ia menilai diaspora Minangkabau memiliki potensi besar melalui jejaring, pengalaman, kapasitas, serta kontribusi pemikiran yang dapat menjadi energi pembangunan bagi Sumbar.
Dalam forum tersebut, penyelenggara juga menyerahkan penghargaan pencapaian sepanjang hayat kepada sastrawan Taufiq Ismail atas kontribusinya bagi sastra Indonesia dan dunia. Penghargaan itu sekaligus menjadi langkah awal mendorong pengakuan internasional Nobel Prize bidang sastra.
Penghargaan turut diberikan kepada tokoh penulis adat dan budaya Minangkabau, Rais Yatim dan Buya Mas’oed Abidin, atas dedikasi mereka dalam menjaga serta mempromosikan budaya Minangkabau.
Selain itu, penghargaan tokoh filantropi diberikan kepada Jurnalis Udin, Nurhayati Subakat, dan Yendra Fahmi atas kontribusi mereka di bidang pendidikan, sosial kemasyarakatan, pembangunan rumah ibadah, hingga penanggulangan bencana. (babarito/ant)

