BI: Harga Pangan Bergejolak Tekan Inflasi Sumbar Tetap Stabil

Adiyansyah Lubis

Perkembangan Indeks Harga Konsumen/Inflasi Sumatera Barat Februari 2020
Kantor Gubernur Sumbar. (Foto: Ist)

PADANG, BABARITO.COM – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sumatera Barat (Sumbar) menyebut inflasi tahunan di Ranah Minang pada April 2026 masih terkendali, terutama didukung oleh stabilnya harga kelompok barang bergejolak (volatile food).

Kepala BI Perwakilan Sumbar, Mohamad Abdul Majid Ikram, mengatakan inflasi tahunan Sumbar tercatat sebesar 1,97 persen secara year on year (yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 2,42 persen (yoy).

“Terkendalinya inflasi di Sumbar ditopang oleh penurunan inflasi kelompok barang bergejolak,” ujarnya di Padang, Rabu (6/5/2026).

Ia menjelaskan, secara kumulatif periode Januari hingga April 2026, Sumbar masih mengalami deflasi sebesar minus 0,43 persen year to date (ytd).

Kondisi tersebut, kata dia, membuat inflasi Sumbar sepanjang 2026 diperkirakan tetap berada dalam rentang sasaran nasional sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen yoy.

“Sehingga secara keseluruhan 2026 inflasi diperkirakan tetap berada pada rentang sasaran yang kondusif dalam menjaga daya beli masyarakat,” katanya.

Meski inflasi tahunan terkendali, secara bulanan Sumbar pada April 2026 tercatat mengalami inflasi 0,39 persen month to month (mtm), naik dibandingkan Maret 2026 yang sebesar 0,04 persen.

Kenaikan ini dipicu oleh faktor pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri 2026, kenaikan harga energi, serta transmisi kenaikan harga barang impor (traded goods).

Sejumlah komoditas yang mendorong inflasi bulanan antara lain tarif angkutan udara, bawang merah, minyak goreng, jengkol, kentang, serta nasi dengan lauk.

BI mencatat inflasi tarif angkutan udara mencapai 32,24 persen setelah berakhirnya diskon tiket pesawat pada periode Lebaran. Kenaikan ini juga dipengaruhi harga avtur, fuel surcharge, serta penyesuaian tarif batas atas penerbangan.

Sementara itu, bawang merah mengalami inflasi 10,52 persen akibat meningkatnya permintaan masyarakat, sedangkan minyak goreng naik 4,75 persen seiring kenaikan harga minyak kelapa sawit mentah (CPO).

BI juga mencatat dampak kenaikan harga komoditas global yang mulai memengaruhi harga makanan jadi, termasuk nasi dengan lauk-pauk.

Ke depan, BI memperkirakan inflasi Sumbar tetap terkendali seiring normalisasi produksi dan perbaikan distribusi barang.

Namun demikian, sejumlah risiko masih perlu diwaspadai, di antaranya kenaikan harga pangan global, gangguan rantai pasok, disparitas harga antarwilayah, cuaca ekstrem, potensi bencana alam, serta tekanan depresiasi nilai tukar rupiah. (babarito/rdr)

Tags

Related Post

Leave a Comment

Ads - Before Footer