PADANG – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Perekonomian Sumatera Barat Tahun 2025 di Auditorium Gubernuran, Kota Padang, Senin (20/10/2025).
Rakor perekonomian Sumbar 2025 ini mendorong sinergi investasi daerah menuju ekonomi inklusif dan berkelanjutan
Kegiatan Rakor dibuka secara resmi oleh Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah. Rakor mengusung tema “Tantangan dan Peluang Investasi Kabupaten/Kota Dalam Mencapai Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Barat 2025–2029.”
Rakor yang berlangsung selama empat hari (20–23 Oktober 2025) ini diikuti oleh Bupati dan Wali Kota se-Sumatera Barat, Sekretaris Daerah Provinsi Sumbar, narasumber nasional, akademisi, dan unsur dunia usaha.
Pertumbuhan Ekonomi Harus Inklusif
Dalam arahannya, Gubernur Mahyeldi menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi sejati bukan sekadar angka statistik, melainkan cerminan kesejahteraan rakyat yang bekerja keras dari berbagai lapisan.
“Pertumbuhan ekonomi sejati adalah pertumbuhan yang inklusif. Tidak cukup hanya tinggi, tapi harus dirasakan manfaatnya oleh seluruh masyarakat—dari petani, nelayan, pedagang, hingga anak muda yang sedang berjuang menatap masa depan,”
ujar Mahyeldi di hadapan peserta Rakor.
Ia menambahkan bahwa kemajuan provinsi merupakan hasil kerja keras seluruh kabupaten dan kota, sehingga sinergi dan sinkronisasi pembangunan ekonomi menjadi kunci penting dalam mewujudkan Sumbar yang lebih maju.
Target Ekonomi Sumbar 2029
Melalui Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2025 tentang RPJMD Provinsi Sumatera Barat 2025–2029, pemerintah daerah menargetkan:
Pertumbuhan ekonomi 7,3 persen pada tahun 2029, PDRB per kapita Rp94,85 juta,
Dengan kebutuhan investasi mencapai Rp80–120 triliun sepanjang periode 2026–2029.
Namun, Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Sumbar dalam tiga tahun terakhir masih di kisaran 6,7, yang menunjukkan efisiensi investasi perlu ditingkatkan.
Lima Langkah Strategis Dorong Investasi
Gubernur menyampaikan lima langkah strategis yang akan menjadi fokus pembangunan ekonomi daerah, yaitu:
- Meningkatkan kualitas investasi agar lebih produktif dan berdampak nyata,
- Reformasi regulasi dan perizinan untuk mempermudah investor,
- Digitalisasi ekonomi dan penguatan UMKM,
- Revitalisasi infrastruktur pelabuhan, rel kereta, dan bandara,
- Peningkatan SDM dan kewirausahaan, agar ekonomi tumbuh dari manusianya, bukan hanya dari proyek.
Selain itu, ia juga memaparkan tujuh arah strategi pembangunan Sumatera Barat 2025–2029, termasuk penguatan SDM, produktivitas pertanian, ekonomi nagari, investasi hijau, serta pemanfaatan energi baru terbarukan.
Kinerja dan Tantangan Ekonomi Daerah
Berdasarkan data 2022–2024, Kota Padang menjadi penyumbang terbesar terhadap PDRB Sumatera Barat dengan kontribusi 25,87 persen, disusul Kabupaten Agam (8,60%) dan Padang Pariaman (8,24%).
Sektor pertanian masih mendominasi dengan kontribusi 21,76 persen, diikuti perdagangan 16,41 persen, yang sebagian besar digerakkan oleh pelaku UMKM.
Meski demikian, tantangan yang dihadapi cukup kompleks: ketimpangan antarwilayah, keterbatasan ruang fiskal, rendahnya efisiensi investasi, serta dampak ketidakpastian ekonomi global dan perubahan iklim.
Kuartini Deti Putri: Rakor Jadi Wadah Sinkronisasi Pembangunan
Kepala Biro Perekonomian Setda Provinsi Sumatera Barat, Kuartini Deti Putri, menyampaikan bahwa Rakor ini merupakan tindak lanjut dari Sarasehan Ekonomi Sumbar yang digelar bersama Bank Indonesia pada 24 Juli 2025.
“Dasar pelaksanaan kegiatan ini mengacu pada Perpres Nomor 12 Tahun 2025 tentang RPJMN 2024–2029 dan Perda Sumbar Nomor 4 Tahun 2025 tentang RPJMD. Tujuannya adalah memetakan potensi investasi daerah, merumuskan strategi kabupaten/kota, dan menyinergikan langkah pembangunan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan,”
jelas Kuartini.
Landasan Nilai dan Harapan ke Depan
Gubernur Mahyeldi menutup arahannya dengan menegaskan pentingnya menjadikan nilai-nilai “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” sebagai landasan pembangunan ekonomi Sumatera Barat.
Menurutnya, pembangunan tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga memuliakan manusia dan menjaga keseimbangan alam.
“Rakor ini kita jadikan momentum kebangkitan ekonomi Sumatera Barat menuju Indonesia Emas 2045,”
pungkasnya.

